Jakarta, swaraberita.com. – International Ethnic Music Festival (IEMF) 2026 menjadi salah satu upaya Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) melalui Komite Musik untuk memperkenalkan kekayaan musik tradisi Indonesia sekaligus membuka ruang pertukaran budaya dengan negara-negara lain. Festival ini juga diharapkan mampu mendekatkan generasi muda, khususnya Gen Z, dengan akar budaya bangsa. Hal disampaikan Taufik Adam pada pembukaan International Ethnic Musicc Festival (IEMF) 2026. di Taman Ismail Marzuki, hari Jum’at, tanggal 6 November 2026.
Ketua Komite Musik DKJ, Taufik Adam, mengatakan DKJ yang telah berdiri sejak 1979 memiliki peran sebagai wadah bagi para pelaku seni untuk mengembangkan kreativitas, menciptakan karya baru, serta memfasilitasi kesenian yang belum mendapatkan ruang memadai di industri komersial.
Menurut Taufik, Komite Musik berupaya menjaga keberadaan musik tradisi agar tetap dikenal masyarakat di tengah perkembangan teknologi dan perubahan zaman yang berlangsung sangat cepat.
“Kita sebagai bangsa yang kaya dengan tradisi dan budaya harus tetap mengenal akar budaya sendiri. Seberapa populer dan modern kehidupan kita sekarang, generasi muda tetap harus tahu warisan budaya yang dimiliki Indonesia,” ujar Taufik.
Taufik Adam menjelaskan, salah satu pendekatan yang dilakukan dalam IEMF 2026 adalah menghadirkan instalasi bunyi dan elemen tradisional dalam ruang yang lebih dekat dengan kehidupan masyarakat. Pendekatan tersebut diharapkan memancing rasa ingin tahu generasi muda terhadap berbagai instrumen, tradisi, dan kebiasaan masyarakat Nusantara. Melalui festival ini, Komite Musik juga menjalankan fungsi sebagai penghubung antarkomunitas dan antarbudaya. Kehadiran delegasi dari Korea Selatan dan Filipina menjadi bagian dari upaya memperluas pertukaran musik etnik di tingkat internasional.
Taufik Adam mengungkapkan, pihaknya sebenarnya ingin menghadirkan lebih banyak negara, termasuk dari Eropa dan kawasan Asia lainnya. Namun, keterbatasan anggaran, sumber daya, serta benturan jadwal menjadi tantangan dalam mewujudkan rencana tersebut.
“Kita ingin pertukaran budaya ini terus berjalan. Ke depan, negara-negara lain dan kesenian daerah yang belum pernah tampil akan kita coba hadirkan. Harapannya, jangkauan festival ini semakin luas,” katanya.
Untuk penampil dari Indonesia, IEMF 2026 menghadirkan sejumlah perwakilan tradisi daerah, antara lain Toraja, Nusa Tenggara Timur (NTT), Riau, Betawi, dan Pacitan. Pemilihan daerah tersebut mempertimbangkan keberagaman wilayah, ketersediaan kelompok seni, serta konsep kuratorial festival. Taufik menjelaskan, penampilan pada 9 November dirancang dengan alur cerita yang menggambarkan perjalanan kehidupan manusia, mulai dari kelahiran, kehidupan, hingga kematian. Masing-masing daerah membawa tradisi dan ritual yang berkaitan dengan siklus kehidupan tersebut. Sementara itu, kesenian dari Pacitan dipilih untuk merepresentasikan tradisi masyarakat agraris yang berkaitan dengan kehidupan dan aktivitas pertanian.
Taufik Adam menegaskan, IEMF bukan sekadar panggung pertunjukan, melainkan juga ruang kolaborasi yang memberikan kesempatan kepada komunitas musik untuk terlibat langsung dalam proses kreatif dan penyelenggaraan festival.
“Komite Musik lebih banyak melakukan supervisi. Teman-teman komunitas yang merancang konsep dan menjadi pelaksana kegiatan. Kami ingin membuka ruang agar mereka memiliki kesempatan untuk berpikir, berkreasi, dan menuangkan gagasannya,” jelasnya.
Selain IEMF, Komite Musik DKJ juga memiliki sejumlah program berkelanjutan. Di antaranya Musik Masuk Pelosok yang menyasar wilayah-wilayah di DKI Jakarta untuk memperkenalkan beragam genre musik, mulai dari musik tradisi, modern hingga jazz. Ada Pekan Komponis yang menjadi program unggulan untuk menemukan, mengenalkan, dan memberikan ruang kepada komponis-komponis muda Indonesia agar karya serta kiprah mereka semakin dikenal masyarakat.
Terkait dukungan pemerintah, Taufik berharap kolaborasi antara DKJ dan kementerian terkait, khususnya bidang pendidikan dan kebudayaan serta ekonomi kreatif, dapat semakin diperkuat. Taufik Adam menjelaskan, kegiatan DKJ saat ini didukung melalui Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) DKI Jakarta. Sementara alokasi anggaran setiap tahun dapat berubah menyesuaikan kebijakan dan kemampuan keuangan daerah.
Karena itu, dukungan pemerintah pusat dinilai penting untuk memperkuat penyelenggaraan festival, memperluas jangkauan kegiatan, serta membuka peluang kolaborasi lintas provinsi.
“Sebesar apa pun kegiatan kebudayaan, tentu membutuhkan dukungan pendanaan yang kuat. Harapan kami, kementerian terkait bisa ikut berkontribusi dan bekerja sama agar kegiatan seperti ini semakin berkembang,” ungkapnya.
Ke depan, Taufik berharap IEMF dapat berkembang menjadi festival dengan jangkauan lebih luas, tidak hanya diselenggarakan di Jakarta, tetapi juga memungkinkan kolaborasi dan pelaksanaan di berbagai provinsi. Ia menekankan bahwa pengenalan tradisi kepada generasi muda merupakan bagian penting dalam menjaga identitas bangsa. Menurutnya, generasi Indonesia perlu memahami kekayaan budaya sendiri agar mampu memperkenalkannya ketika berinteraksi dengan masyarakat dunia.
“Jangan sampai ketika anak-anak kita belajar atau kuliah di luar negeri, kemudian ditanya tentang budaya Indonesia, justru tidak mengenalnya. Kita ingin generasi muda tetap melek tradisi dan budaya karena itulah bagian dari identitas bangsa,” pungkas Taufik.