Jakarta, swaraberita.com. — International Ethnic Music Festival (IEMF) 2026 resmi dibuka di kompleks Taman Ismail Marzuki (TIM), Cikini, Jakarta Pusat, Jumat (6/11/2026). Festival yang berlangsung pada 6–9 November 2026 ini menghadirkan musisi dan seniman musik tradisi dari Indonesia, Korea Selatan, dan Filipina untuk memperkenalkan kekayaan musik etnik sekaligus membangun dialog kebudayaan lintas negara.
Mengangkat tema musik tradisi sebagai ruang perjumpaan pengetahuan dan dialog kebudayaan, IEMF 2026 tidak hanya menghadirkan pertunjukan musik, tetapi juga mengajak masyarakat memahami nilai sejarah, identitas, pengetahuan, dan cara hidup yang terkandung dalam setiap tradisi musik.
Ketua Harian Dewan Kesenian Jakarta (DKJ), Taufik Adam dalam sambutannya, mengatakan musik tradisi tidak cukup dipahami hanya melalui melodi, ritme, instrumen, maupun teknik permainan. Di balik setiap bunyi terdapat pengetahuan, nilai sejarah, serta cara hidup masyarakat yang melahirkan tradisi tersebut.
“Melalui International Ethnic Music Festival 2026, kami ingin menghadirkan musik tradisi bukan sekadar sebagai pertunjukan di atas panggung, melainkan sebagai bagian dari konteks kebudayaan yang utuh. Musik menjadi pintu masuk untuk mengenal lebih dekat identitas tradisi dan kehidupan masyarakat,” ujarnya.
Ia menambahkan, festival ini menjadi ruang perjumpaan, pembelajaran, dan dialog antarbudaya, baik dari berbagai daerah di Indonesia maupun mancanegara. Keberagaman tradisi diharapkan tidak dipandang sebagai sesuatu yang terpisah, tetapi sebagai kekayaan yang dapat saling memperkaya dengan tetap menghormati nilai, etika, dan kesakralan masing-masing budaya.
Atas nama Komite Musik DKJ, ia juga menyampaikan apresiasi kepada Unit Pengelola Pusat Kesenian Jakarta Taman Ismail Marzuki (UP PKJ TIM), Jakpro, serta mitra penyelenggara, yakni Yayasan Abbon Indonesia, Indonesian World Music Series, dan Tukang Tabu yang telah mendukung terselenggaranya festival tersebut.
Sementara itu, Kepala UP PKJ TIM, Heri Sanjaya, menyampaikan bahwa penyelenggaraan IEMF 2026 merupakan hasil kolaborasi berbagai pihak dalam upaya merawat dan mengembangkan kebudayaan agar semakin terbuka terhadap perjumpaan lintas tradisi.
Menurut Heri, musik tradisi bukan semata-mata warisan masa lalu yang harus dipertahankan keberadaannya, melainkan pengetahuan hidup yang tumbuh dari pengalaman panjang masyarakat dalam membangun hubungan dengan alam, lingkungan sosial, sejarah, spiritualitas, dan identitas kebudayaan.
“Tantangan kita hari ini bukan hanya menjaga agar musik tradisi tetap ada, tetapi juga memastikan pengetahuan yang terkandung di dalamnya dapat diwariskan, dikembangkan, dan memperoleh ruang untuk berdialog dengan berbagai ekspresi kebudayaan lainnya,” kata Heri.
Ia menilai pertemuan para musisi dari Indonesia, Filipina, dan Korea Selatan dalam festival ini dapat membuka perspektif baru mengenai kekayaan tradisi musik di kawasan Asia sekaligus mendorong terbentuknya jejaring dan kolaborasi pada tingkat internasional.
Heri juga menekankan bahwa diplomasi kebudayaan tidak selalu harus dimulai melalui forum-forum formal. Diplomasi dapat tumbuh melalui ruang kreatif dan seni, pertukaran pengalaman, kolaborasi, serta kesediaan untuk mendengarkan bunyi dan cerita dari kebudayaan yang berbeda.
Lebih lanjut, ia berharap Taman Ismail Marzuki terus berkembang sebagai pusat kesenian yang terbuka bagi keberagaman ekspresi, termasuk musik tradisi dan berbagai praktik kebudayaan masyarakat.
Kolaborasi antara UP PKJ TIM, DKJ, komunitas, seniman, serta berbagai mitra penyelenggara diharapkan tidak berhenti pada IEMF 2026, tetapi berlanjut melalui program-program kesenian yang inklusif dan memberikan dampak bagi perkembangan ekosistem seni dan budaya.
Puncak pembukaan festival ditandai dengan prosesi simbolis yang melibatkan Ketua Harian DKJ Taufik Adam, Kepala UP PKJ TIM Heri Sanjaya, Roni Rusmana, serta perwakilan delegasi internasional, Sungjae dari Korea Selatan dan Sabrina Tan dari Filipina.
Melalui penyelenggaraan IEMF 2026, masyarakat diharapkan semakin mengenal keberagaman musik tradisi sekaligus memahami nilai-nilai kebudayaan yang diwariskan antargenerasi. Festival ini juga menjadi momentum untuk memperkenalkan kekayaan seni musik Indonesia kepada masyarakat internasional serta mendorong generasi muda agar terus merawat dan mengembangkan warisan budaya bangsa.