Jakarta, swaraberita.com. — Film drama keluarga Indonesia Desember Jani produksi Palari Films mendapat kesempatan tampil di panggung internasional. Film panjang pertama sutradara Ariani Darmawan tersebut terpilih untuk menggelar World Premiere dalam ajang Tokyo International Film Festival (TIFF) ke-39 melalui program kompetisi Asian Future. Desember Jani akan diputar di Tokyo pada 27 Oktober 2026 pukul 17.10 dan 29 Oktober 2026 pukul 13.30 waktu setempat. Setelah menjalani pemutaran perdana dunia di Jepang, film ini akan kembali ke Indonesia dan tayang di seluruh bioskop mulai 10 Desember 2026. Film ini membawa kisah yang sangat dekat dengan kehidupan keluarga Indonesia. Ceritanya berpusat pada Jani (Chempa Puteri), gadis berusia 13 tahun yang menunggu kepulangan kakaknya, Julia (Hyori Mika), setelah pergi dari rumah tanpa pamit.
Kepergian Julia membuat hubungan Jani dengan ibunya, Winnie (Sigi Wimala), semakin renggang. Winnie merupakan ibu tunggal yang menjadi tulang punggung keluarga dan terus bekerja sembari memendam rasa bersalah. Sementara itu, Oma (Tutie Kirana), yang sehari-hari berjualan lumpia, menjadi sosok yang membuat Jani merasa paling nyaman. Namun, Jani ternyata menyimpan sebuah rahasia. Ia mengetahui Julia baik-baik saja dan masih berkomunikasi dengannya secara diam-diam. Dalam empat hari di bulan Desember, Jani harus menentukan pilihan: tetap menyimpan rahasia atau mengatakan yang sebenarnya. Keputusan tersebut kemudian membawa empat perempuan dalam keluarga itu menuju percakapan yang selama ini mereka hindari.
Cerita Lokal, Emosi Universal
Sutradara Ariani Darmawan mengatakan Desember Jani berangkat dari pengamatan terhadap momen-momen sederhana dalam kehidupan keluarga yang justru menyimpan berbagai emosi.
“Bagi saya, daya tarik utama dari sebuah keluarga terletak pada momen-momen kecil harian yang dialami bersama. Di dalamnya tersimpan amarah, kekecewaan, kasih sayang, serta gengsi, namun kita saling bingung cara mengungkapkan atau menyikapinya,” ujar Ariani.
Menurut Ariani, pengalaman keluarga Jani diharapkan dapat menemukan resonansi dengan penonton, baik di Indonesia maupun di Tokyo.
“Baik penonton di Indonesia maupun Tokyo diharapkan dapat melihat cerminan serta kedekatan dengan keluarga mereka sendiri lewat kisah keluarga Jani,” katanya.
Gagasan cerita Desember Jani dikembangkan Ariani selama tiga tahun. Dalam prosesnya, ia berkolaborasi dengan penyair sekaligus penulis Cyntha Hariadi, yang menjadi satu-satunya penulis skenario film tersebut sekaligus menandai debutnya dalam penulisan skenario film layar lebar.
Cyntha mengatakan konflik dalam film tidak menempatkan orang tua maupun anak sebagai pihak yang sepenuhnya benar atau salah.
“Anak bisa merasa tidak didengar, sementara orang tua merasa semua yang dilakukannya adalah untuk keluarganya. Keduanya bisa sama-sama menyayangi, tetapi tetap tidak saling memahami. Kami ingin mereka tidak menjadi karakter yang sepenuhnya benar atau salah,” tutur Cyntha.
Sementara itu, Sigi Wimala menggambarkan karakter Winnie sebagai sosok ibu yang memiliki kasih sayang besar, tetapi tetap menghadapi keterbatasan manusiawi dalam menjalankan perannya.
“Winnie sangat manusiawi buat saya. Dia sayang kepada anak-anaknya, tetapi rasa sayang tidak otomatis membuat seseorang selalu tahu cara yang paling tepat untuk menjadi ibu,” ungkap Sigi.
Dari Hong Kong Menuju Tokyo
Perjalanan Desember Jani menuju panggung internasional sebelumnya telah dimulai melalui keikutsertaannya dalam Hong Kong Asia Film Financing Forum (HAF) pada Maret 2026. Produser Meiske Taurisia mengatakan sejak awal film tersebut memang dirancang untuk berbicara tentang pengalaman keluarga yang dekat dengan kehidupan sehari-hari.
“Sejak awal kami membuat Desember Jani untuk berbicara kepada penonton di sini, kepada anak, ibu, kakak, adik, dan keluarga yang mungkin pernah mengalami sulitnya berbicara sebuah percakapan,” ujar Meiske.
Menurut Meiske, terpilihnya film tersebut untuk World Premiere di Tokyo menunjukkan bahwa cerita yang berangkat dari persoalan sangat lokal tetap dapat menemukan kedekatan dengan penonton dari latar budaya berbeda.
“Perjalanan ke Tokyo justru menunjukkan bahwa cerita yang sangat lokal juga bisa berbicara kepada penonton dari tempat yang berbeda,” katanya.
Keikutsertaan dalam TIFF menjadi babak penting bagi Desember Jani sebelum film tersebut kembali ke Indonesia untuk menemui penonton di bioskop. Film ini disutradarai Ariani Darmawan, dengan skenario Cyntha Hariadi. Meiske Taurisia dan Muhammad Zaidy bertindak sebagai produser, sementara Luna Maya bergabung sebagai produser eksekutif.
Jajaran pemainnya terdiri atas Chempa Puteri, Sigi Wimala, Tutie Kirana, dan Hyori Mika.
Setelah World Premiere di Tokyo, Desember Jani dijadwalkan tayang di bioskop Indonesia pada 10 Desember 2026. Bagi Palari Films, perjalanan film ini menjadi bagian dari upaya membawa cerita Indonesia yang intim dan berakar pada kehidupan sehari-hari ke ruang pertemuan sinema internasional—sebelum akhirnya kembali kepada penonton di tanah air.