Dian Sastrowardoyo dan Roy Sungkono Tebar Romantisme dalam Trailer Film “Yang Datang dan Yang Pergi”

Reuni Dian dengan Nurman Hakim dan Nan Achnas, Film Angkat Kisah Cinta, Rahasia Keluarga, dan Perjalanan Perempuan Menentukan Masa Depan

Jakarta, swaraberita.com. — Aktris Dian Sastrowardoyo dan Roy Sungkono menghadirkan kisah romantis dalam official trailer film Yang Datang dan Yang Pergi, persembahan Triximages dan Dash Pictures. Film yang disutradarai Nurman Hakim bersama Nan Achnas ini dijadwalkan tayang serentak di bioskop Indonesia mulai 3 Desember 2026. Official trailer yang diperkenalkan pada Jumat (30/10) memperlihatkan kisah Sinta (Dian Sastrowardoyo), perempuan yang kehidupannya berkaitan erat dengan sebuah guest house tua peninggalan keluarganya. Tempat tersebut bukan sekadar bangunan bersejarah, melainkan ruang yang menyimpan berbagai rahasia, kenangan, cinta, hingga pengkhianatan lintas generasi.

Kehidupan Sinta kembali bersinggungan dengan masa lalu ketika Banawan (Roy Sungkono), teman masa kecilnya, hadir kembali saat dirinya telah dewasa. Pertemuan tersebut menghadirkan dinamika hubungan yang hangat dan romantis. Namun, kedatangan sejumlah laki-laki lain sebagai tamu guest house turut membawa harapan, cinta, sekaligus persoalan yang berdampak pada kehidupan Sinta dan keluarganya.

Cerita film ini dibangun melalui tiga periode waktu berbeda, yakni 1965, 1999, dan 2026. Ketiga periode tersebut saling terhubung melalui sejarah keluarga Sinta dan guest house tua yang menjadi saksi perjalanan kehidupan para tokohnya. Menariknya, Yang Datang dan Yang Pergi bukan semata-mata menawarkan drama romantis. Film ini juga mengeksplorasi pergulatan seorang perempuan dalam menemukan identitas diri, menghadapi warisan masa lalu, serta menentukan pilihan hidup tanpa harus terikat pada harapan dan tekanan lingkungan sekitarnya.

“Melalui film Yang Datang dan Yang Pergi, kami ingin mengeksplorasi bagaimana masa lalu membentuk kehidupan seseorang, sekaligus bagaimana seorang perempuan menghadapi warisan tersebut untuk menentukan masa depannya. Setiap generasi tentunya mewarisi cerita dari generasi sebelumnya. Namun, tidak semua cerita harus berakhir dengan cara yang sama,” ujar Nurman Hakim, penulis, produser, dan sutradara film tersebut.

Pandangan serupa disampaikan Nan Achnas. Menurutnya, perjalanan Sinta menggambarkan bagaimana perempuan memiliki pilihan dan hak untuk menentukan arah kehidupannya sendiri, meskipun berada di tengah kekangan dan warisan keluarga.

“Setiap generasi memiliki kesempatan untuk menentukan apa yang ingin dipertahankan dan apa yang ingin ditinggalkan. Bagi perempuan, pilihan tersebut juga berkaitan dengan hak untuk menentukan jalan hidupnya sendiri. Di film ini, Dian sangat kuat memerankan Sinta yang sedang menceritakan fase-fase kehidupannya,” ungkap Nan.

Reuni Dian Sastrowardoyo dengan Nurman Hakim dan Nan Achnas

Film ini sekaligus menjadi ajang reuni Dian Sastrowardoyo dengan dua sineas yang memiliki perjalanan penting dalam karier perfilmannya. Dian sebelumnya pernah bekerja sama dengan Nurman Hakim dalam film *3 Doa 3 Cinta* (2008). Sementara itu, bersama Nan Achnas, Dian mengawali perjalanan pentingnya di industri perfilman melalui film ikonik *Pasir Berbisik* (2001).

Dian mengaku antusias dapat kembali berkolaborasi dengan keduanya melalui sebuah cerita yang memberikan perspektif berbeda mengenai perempuan, warisan keluarga, dan pilihan hidup.

“Di film ini, karakter Sinta diperlihatkan sebagai perempuan yang bukan hanya sebagai penerima warisan masa lalu, tetapi juga sebagai individu yang memiliki pilihan terhadap masa depannya. Menurut saya, itu juga sangat merefleksikan apa yang dialami oleh banyak perempuan hingga saat ini,” kata Dian.

Bagi Roy Sungkono, film ini juga memberikan pengalaman baru karena untuk pertama kalinya ia dipasangkan dengan Dian Sastrowardoyo sebagai pasangan romantis. Melalui karakter Banawan dan Sinta, keduanya menghadirkan hubungan yang memiliki kedekatan emosional sekaligus menyimpan berbagai rahasia masa lalu.

“Banawan adalah orang lama dari masa lalu Sinta, yang kembali datang di kehidupannya saat dewasa. Guest house tua keluarga Sinta di film ini akan menjadi ruang tempat masa lalu dan masa kini bertemu, yang memperlihatkan bagaimana sejarah keluarga bisa memengaruhi kehidupan generasi berikutnya,” ujar Roy.

Selain Dian Sastrowardoyo dan Roy Sungkono, film ini turut dibintangi Dimas Aditya, David Ari Wibowo, dan Retno Soetarto. Dimas Aditya juga menjadi bagian dari reuni bersama Nurman Hakim setelah sebelumnya berkolaborasi dalam film *Bid’ah Cinta* (2017).

Kolaborasi Triximages dan Dash Pictures

*Yang Datang dan Yang Pergi* merupakan kolaborasi kedua Triximages dan Dash Pictures setelah film *The Window* (2016). Dash Pictures didirikan oleh M. Rochadi, sementara Triximages merupakan rumah produksi yang didirikan Nan Achnas dan Nurman Hakim dengan fokus pada pengembangan karya audiovisual, termasuk film panjang dan dokumenter.

Triximages sebelumnya memproduksi sejumlah film yang mendapat perhatian di festival internasional. Di antaranya *Bendera (The Flag)* karya Nan Achnas yang berkompetisi di Tokyo International Film Festival 2003, *The Photograph* yang meraih Grand Prix di Karlovy-Vary International Film Festival, serta *3 Doa 3 Cinta* karya Nurman Hakim yang memperoleh Grand Jury Prize di Vesoul International Film Festival dan penghargaan Film Terbaik di Jakarta International Film Festival. Nurman juga menyutradarai *Khalifah* (2011) yang meraih Audience Award di Vesoul International Film Festival 2012.

Melalui Yang Datang dan Yang Pergi, kedua rumah produksi kembali menghadirkan kolaborasi dengan mengangkat cerita tentang hubungan antargenerasi, memori keluarga, cinta, dan kebebasan perempuan dalam menentukan masa depan. Film Yang Datang dan Yang Pergi,  akan tayang di seluruh bioskop Indonesia mulai **3 Desember 2026**. Informasi dan perkembangan terbaru film ini dapat diikuti melalui akun Instagram @filmyangdatang.