Malahayati Angkat Heroisme Perempuan Aceh dalam Balutan Fantasy Action

Jakarta, swaraberita.com. — Upaya mengenalkan sejarah kepada generasi muda melalui medium film menjadi salah satu alasan lahirnya film yang mengangkat sosok Laksamana Malahayati. Alih-alih menyajikan sejarah secara konvensional, film ini dikemas sebagai tontonan fantasy action dengan mengambil inspirasi dari tokoh dan fragmen sejarah nyata.
Gagasan tersebut berangkat dari kegelisahan sutradara Archie Hekagery melihat minimnya film Indonesia yang mengangkat kisah kepahlawanan dalam format hiburan populer. Menurutnya, sejumlah negara telah berhasil menjadikan sejarah sebagai bagian dari budaya pop melalui film maupun karya hiburan lainnya.
Archie Hekagery mencontohkan sejumlah film dan karya budaya populer di berbagai negara yang membuat generasi muda mengenal sejarah melalui medium hiburan. Hal serupa, menurutnya, dapat dilakukan terhadap sejarah Indonesia, termasuk kisah Laksamana Malahayati dan pasukan Inong Balee.
“Sejarah itu lebih menarik untuk diajarkan melalui film ketika menjadi pop culture. Ketika menjadi fantasi yang menghibur dan bisa ditonton orang banyak,” ujarnya dalam sesi pemaparan film.
Ketertarikannya terhadap Malahayati bermula ketika seorang sepupu memperkenalkan teater yang mengangkat sosok tersebut pada awal 2024. Ia mengaku saat itu justru belum mengenal Malahayati secara mendalam, meski dirinya memiliki darah Aceh.
“Siapa itu Malahayati? Saya orang Aceh, tidak tahu Malahayati pada saat itu,” katanya.
Ia kemudian mulai mempelajari sosok Malahayati melalui berbagai literatur dan buku. Proses tersebut akhirnya mendorong keputusan untuk membawa kisah tersebut ke layar lebar pada 2025.
Namun, perjalanan produksi tidak mudah. Ide film kepahlawanan tersebut sempat menghadapi keraguan dari sejumlah produser, terutama karena persoalan pembiayaan dan pertanyaan mengenai daya tarik film bertema pahlawan bagi penonton.
Titik balik terjadi setelah ia bertemu produser Yuda Geradianto. Keduanya kemudian sepakat mengambil sejumlah fragmen sejarah Malahayati dan mengolahnya menjadi film fantasi.
“Film ini sebenarnya film fantasi. Kenapa? Karena ini adalah pop culture. Bioskop bukan tempat untuk mendiskusikan sejarah, karena ruang diskusinya ada di kampus. Bioskop adalah tempat orang mendapatkan tontonan dan hiburan,” jelasnya.
Menurutnya, pendekatan tersebut bukan berarti mengabaikan sejarah. Justru, unsur fantasi dan aksi digunakan sebagai pintu masuk agar kisah tokoh sejarah lebih mudah diterima masyarakat, khususnya generasi muda.
Ia mencontohkan bagaimana dirinya mengenal sejarah Skotlandia melalui film Braveheart, sejarah Tiga Kerajaan melalui gim Dynasty Warriors, hingga Restorasi Meiji melalui manga dan anime Rurouni Kenshin.
“Intinya, ternyata sejarah itu lebih menarik untuk diajarkan melalui film ketika menjadi pop culture,” ujarnya.
Film tersebut diharapkan dapat memperkenalkan kembali sosok Laksamana Malahayati dan pasukan Inong Balee kepada generasi muda Indonesia.
“Paling tidak kita sebagai orang Indonesia, anak-anak muda tahu bahwa ada Inong Balee 400 tahun yang lalu yang berhasil menghadapi pasukan Eropa. Ada Laksamana Malahayati, seorang laksamana perempuan pertama di dunia, dan beliau adalah orang Aceh,” katanya.
Atika Hasiholan Dalami Sosok Malahayati
Aktris Atika Hasiholan dipercaya memerankan karakter Laksamana Malahayati. Meski film menggunakan pendekatan fiksi dan fantasi, Atika mengaku tetap berusaha membangun karakter berdasarkan sosok Malahayati yang dikenal melalui berbagai literatur.
“Walaupun ini adalah fiction, tapi ini terinspirasi dari tokoh nyata. Pendekatan saya sebisa mungkin sesuai dengan tokoh nyata yang ada, walaupun dengan keterbatasan referensi,” ujar Atika.
Ia melakukan pendalaman melalui membaca literatur, berdiskusi, serta membangun interpretasi mengenai karakter Malahayati.
Ketika ditanya mengenai kesamaan antara dirinya dengan tokoh yang diperankan, Atika menyebut keberanian untuk menyuarakan sesuatu yang dianggap benar.
“Mungkin berani. Saya tipe orang yang kalau ada sesuatu yang salah di mata saya akan speak up dan memperjuangkan hal yang menurut saya benar,” katanya.
Empat Istri Sulaiman Hadir dengan Karakter Berbeda
Selain Malahayati, film ini juga menghadirkan sejumlah karakter perempuan dengan latar dan kepribadian berbeda.
Cut Mini memerankan Maisarah, istri pertama Sulaiman. Karakter tersebut digambarkan sebagai sosok perempuan kaya yang harus menghadapi dinamika rumah tangga setelah sang suami menikah lagi.
Uli Triani tampil sebagai Farida, istri kedua, dengan karakter petualang, pemberani, pemburu, sekaligus petarung yang mahir menggunakan panah.

Sementara Tasya Thiya memerankan Dahlia, istri ketiga. Dahlia digambarkan gemar membaca dan belajar serta memiliki pengetahuan yang dapat membantu dalam situasi peperangan.
Adapun Virgini memerankan Sawa, istri keempat. Karakter Sawa digambarkan polos, ceria, dan memiliki rasa cinta yang kuat kepada suaminya.
Keempat karakter tersebut menjadi bagian dari dinamika cerita yang mempertemukan empat perempuan dengan latar dan karakter berbeda dalam satu lingkungan keluarga.
Vincent Verhaag Perankan Ahli Pedang Eropa
Film ini juga menghadirkan Vincent Verhaag sebagai Achille Marozzo, karakter yang digambarkan sebagai ahli pedang dan anggar.
Vincent mengaku melakukan riset mengenai latar belakang karakter tersebut sebelum menjalani proses syuting, termasuk mempelajari sejarah dan karakter Marozzo.
“Saya mencoba menggabungkan semuanya, dari segi sejarahnya, auranya, dan gerakannya sebagai swordsman yang jago anggar,” kata Vincent.
Sementara itu, Hans the Cracker memerankan Peter, seorang penerjemah asal Eropa. Hans mengaku memiliki ketertarikan terhadap sosok Malahayati sebelum bergabung dalam film tersebut.
Menurutnya, karakter Peter memiliki dua sisi. Di satu sisi ia merupakan penerjemah, tetapi di sisi lain memiliki karakter licik dan manipulatif yang berusaha mengambil keuntungan dari situasi yang dihadapinya.
Hadirkan Karakter Generasi Muda
Film ini juga memperkenalkan Shaura sebagai Gemma. Bagi Shaura, film tersebut menjadi debutnya di dunia perfilman.
Ia mengaku tertarik dengan karakter Gemma yang digambarkan tomboy dan memiliki pandangan bahwa perempuan dan laki-laki memiliki kedudukan yang setara.
“Saya bersyukur banget bisa ikut proyek ini karena sebenarnya belum pernah terjun ke dunia entertainment,” ujar Shaura.
Sementara itu, Muzaki memerankan Agam. Ia mengaku justru memiliki pengalaman unik ketika pertama kali membaca naskah karena merasa tidak menyukai karakter yang diperankannya.
Deretan pemain tersebut memperlihatkan upaya film menghadirkan kisah Malahayati bukan hanya sebagai drama sejarah, tetapi sebagai tontonan aksi-fantasi dengan karakter yang beragam.
Dengan pendekatan tersebut, film ini menempatkan sejarah sebagai sumber inspirasi sekaligus menjadikannya bagian dari budaya pop. Harapannya, kisah Malahayati dan Inong Balee tidak berhenti sebagai catatan sejarah, tetapi dapat kembali dikenal oleh penonton lintas generasi melalui layar lebar.