Satu rahasia, tiga generasi, empat perempuan. Debut film panjang Ariani Darmawan sekaligus kembalinya Ariani dan Sigi Wimala dari hiatus, tayang di bioskop mulai 10 Desember 2026.
Jakarta, 5 November 2026, Palari Films resmi merilis trailer dan poster film Desember Jani, usai menjalani World Premiere di Tokyo International Film Festival (TIFF) ke-39 dalam kompetisi Asian Future. Di kompetisi tersebut, Desember Jani juga meraih Special Mention, Kisah tentang keluarga yang menunggu seorang anak pulang ini kini pulang ke penonton yang paling dekat dengan ceritanya, keluarga Indonesia, dan tayang di bioskop mulai 10 Desember 2026.
Palari Films adalah perusahaan produksi film yang didirikan pada tahun 2016 di Jakarta, dipimpin oleh produser Meiske Taurisia dan Muhammad Zaidy. Palari Films menandai terobosan baru dalam perfilman Indonesia dengan memenangkan Golden Leopard, penghargaan tertinggi di Festival Film Locarno ke-74 dengan film Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas. Karya terakhirnya Monster Pabrik Rambut (2026) memenangkan Best Screenplay, Special Jury Mention for Practical Effect, dan Best Production Design Award; di Montreal dan Swiss. Beberapa film yang pernah diproduksi Palari Films adalah Kabut Berduri (Netflix Original Indonesia, 2024) mendapatkan 12 nominasi Piala Citra 2024 dan berhasil menduduki peringkat 2 dalam Daftar Global Netflix Top 10 Film Non-English pada periode dua pekan tayang. Sebelumnya Dear David (2023), omnibus Piknik Pesona (2022), Ali & Ratu-Ratu Queens (2021), Aruna & Lidahnya (2018), Posesif (2017). Palari Films berusaha untuk selalu menghasilkan karya-karya yang unik dan berkualitas.
Trailer Desember Jani memperkenalkan empat perempuan dari tiga generasi dalam satu rumah: Oma (Tutie Kirana), Winnie (Sigi Wimala), serta dua anak perempuannya, Julia (Hyori Mika) dan Jani (Chempa Puteri). Saat Julia pergi dari rumah tanpa pamit, Jani menyimpan satu hal yang tak terucap. Ia harus memilih: tetap diam demi kakaknya, atau akhirnya bicara kepada ibunya. Nuansa yang sama terasa di poster resminya. Keempatnya berada di ruang tamu yang sama. Ada kehangatan antara Jani dan Oma, namun juga jarak yang dingin antara Winnie dan anak sulungnya.
Potret keluarga yang tidak sempurna, tapi masih mau mencoba.
Kemenangan di Tokyo menjadi apresiasi berharga bagi para pembuat film dan jajaran pemeran. “Asian Future Special Mention memberikan kepercayaan bahwa akan selalu ada kesempatan untuk pertama kali. Film panjang pertama untuk Ariani Darmawan sebagai sutradara, skenario pertama untuk Cyntha Hariadi, pertama kali menjadi aktor utama bagi Chempa Puteri, dan film panjang pertama buat aktor Hyori Mika. Penghargaan ini juga apresiasi besar untuk kembalinya Sigi Wimala ke layar lebar, dan Tutie Kirana yang telah berkarya lebih dari 50 tahun. Harapan kami hanya satu, Desember Jani dirayakan di rumah sendiri dan ditonton oleh para penonton film Indonesia. Dan yang paling penting, memantik berbagai percakapan yang belum selesai dalam keluarga.” ujar produser Meiske Taurisia.
Desember Jani merupakan debut film panjang Ariani Darmawan setelah rehat. Seniman visual sekaligus pendiri Kineruku Bandung ini sebelumnya menggarap film pendek dan dokumenter bertema identitas, termasuk Sugiharti Halim yang berkompetisi di Clermont-Ferrand. Film ini menjadi refleksi personalnya sebagai seorang ibu dan anak.
“Dari luar, mungkin kita akan melihat bahwa ini cerita tentang keluarga tiga generasi. Ada satu anaknya yang pergi dari rumah dan bagaimana mereka menunggu sang anak pulang. Sambil menunggu, kemudian mereka saling terkoneksi satu sama lain. Tapi lebih dari itu, saya pikir Desember Jani juga tentang perasaan-perasaan terdalam mereka. Semua orang pasti punya lukanya masing-masing. Bahkan yang paling kecil pun juga sudah memiliki lukanya sendiri,” ujar sutradara Ariani Darmawan.
Skenarionya ditulis Ariani bersama Cyntha Hariadi, penyair dan novelis favorit Ariani sejak kumpulan cerpen Manifesto Flora. Mengagumi Ariani sebagai sutradara, Cyntha pun menyambut ajakan kolaborasi di debut skenarionya ini. Lewat Desember Jani, ia menghadirkan karakter multi-dimensi dengan sudut pandang masing-masing, sehingga penonton dapat memahami Oma, Winnie, Julia, dan Jani.
Sigi Wimala, yang kembali berakting setelah hiatus, memerankan Winnie, ibu tunggal yang menjadi tulang punggung keluarga dan menyimpan rasa bersalah sejak anak sulungnya pergi. Bagi Sigi, film ini menjadi pengingat bahwa hal kecil bisa tumbuh menjadi masalah besar karena cara berkomunikasi yang keliru.
“Sebagai orang tua tunggal, Winnie harus jadi segalanya di rumah. Pulang kerja sudah capek, dan capek itu sering keluar dalam bentuk marah. Bukan karena tidak peduli. Yang sebenarnya ingin dia bilang cuma, ‘Ibu khawatir sama kamu,’” ujar Sigi.
“Aku berharap orang tua yang menonton bisa sedikit lebih lembut pada diri sendiri. Lelah itu manusiawi, salah bicara juga bisa terjadi. Yang penting, kita masih mau mencoba bicara lagi dengan anak kita,” tambahnya.
Pesan untuk lebih lembut pada diri sendiri itu juga Sigi bawa dalam kesehariannya. Selama di Tokyo, dari tiba di bandara hingga melangkah di karpet merah TIFF, ada satu kebiasaan kecil yang selalu ia jaga: membawa V-SOY di tasnya. “Banyak ibu, seperti Winnie, sibuk menjaga semua orang sampai lupa menjaga diri sendiri. Buat aku, merawat diri bisa dimulai dari hal yang simpel, seperti memastikan ada V-SOY di tas sebelum memulai hari yang panjang,” kata Sigi.
Selain Sigi, Desember Jani juga dibintangi Chempa Puteri dalam peran utama pertamanya sebagai Jani, dan Hyori Mika dalam debut film panjangnya sebagai Julia. Keduanya menyanyikan ulang Kopi Kaleng karya Harlan Boer sebagai OST film. Sementara itu, Tutie Kirana tampil berbeda dari peran-peran sebelumnya sebagai Oma yang hangat dan jenaka.
Desember Jani diproduseri oleh Meiske Taurisia dengan produser eksekutif Luna Maya.
“Sebagai film kesebelas Palari Films, Desember Jani lahir dari kepemimpinan kreatif perempuan dan kolaborasi istimewa. Ini bukan tentang keluarga yang sempurna, melainkan tentang keluarga yang terus mencoba. Mari tutup tahun 2026 dengan nonton Desember Jani mulai 10 Desember di bioskop,” tambah Meiske.
Kompetisi Film Pendek Stories of Her
Menyambut penayangan film Desember Jani, Palari Films juga berkolaborasi dengan CapCut untuk menggelar kompetisi film pendek bertema Stories of Her. Kompetisi ini ditujukan untuk kreator perempuan berusia 18 tahun ke atas, dengan karya berdurasi 3–5 menit. Dengan tema Stories of Her, para kreator perempuan diharapkan bisa mengangkat pengalaman dan perspektif perempuan dalam keluarga, termasuk hubungan ibu–anak, saudara, dan lintas generasi.
Para peserta juga akan memperoleh pembekalan materi dari produser film Desember Jani, Meiske Taurisia, serta sutradara Mouly Surya, dan panduan teknis dari CapCut. Periode kompetisi ini berlangsung pada 26 Oktober–22 November 2026, dan pengumuman pemenang akan berlangsung pada 25 November 2026.
Tak hanya kompetisi film pendek, CapCut juga merilis templat khusus Desember Jani mulai 5 November 2026, bersamaan dengan rilisnya trailer dan poster film. Pengguna CapCut nantinya dapat memasukkan foto atau video pribadi untuk membuat konten dengan identitas visual Desember Jani, mulai dari aset resmi film seperti title treatment, elemen visual, stiker, potongan dialog, dan OST lagu Kopi Kaleng versi Jani & Julia.
Informasi lengkap kunjungi https://www.palarifilms.com/desemberjani.
***
Sinopsis
Sepuluh hari setelah Julia pergi dari rumah tanpa pamit, Jani (13 tahun) cuma ingin kakaknya itu pulang. Ia tahu ibunya, Winnie, adalah penyebab Julia pergi. Hubungan mereka makin renggang, sementara Winnie sibuk bekerja untuk menutupi rasa bersalahnya. Hanya Oma yang bisa menghibur Jani. Diam-diam, Jani masih berhubungan dengan Julia. Selama empat hari di bulan Desember, Jani harus memilih. Terus diam demi kakaknya, atau akhirnya bicara.